Sebuah Pengantar - Mengimani Takdir
Mengimani
Takdir:
Sebuah
Pengantar
Sekira
pertengahan hari pada tahun 2021 atau 2022, kolega kerja yang umurnya cukup
berjarak datang menghampiriku. Sekadar mengobrol dari urusan pekerjaan yang
tiada habisnya, hingga aku sendiri lupa, apa saja bahasannya saat itu. Namun,
ada satu pertanyaan berikut dengan jawaban yang terus kuingat hingga saat ini.
“Mas,
menurutmu, kenapa temanmu itu belum menikah?” tanyaku polos,
penuh rasa penasaran pada mereka yang belum memutuskan untuk menikah kala usia
telah menginjak kepala tiga.
“Ya,
mungkin karena belum nemu orang yang tepat, Det.”
Jawabannya
menohok. Membuatku terangguk-angguk tanpa sengaja. Mengiyakan ucapannya sambil
memikirkan hal yang sama.
Sejenak
aku berpikir:
Apa
jangan-jangan, kita selalu diselimuti rasa penasaran?
Menjadikan
seseorang sebagai tempat singgah, bukan menjadi sebenar-benarnya rumah.
Atau
jangan-jangan, kita senantiasa menunggu ketidakpastian?
Selalu
mencari sosok yang tepat untuk membersamai.
Padahal,
kita lupa akan kewajiban untuk
berikhtiar “menjadi”, daripada sekadar “mencari”.
~
Ada
juga contoh lain, percakapan daring dengan salah satu seniorku dulu.
Saat
itu, aku mengunggah status Whatsapp berupa dokumentasi saat kami melaksanakan magang
di sebuah kantor yang bercokol di Jalan Gatot Subroto itu. Tak disangka, beliau
membalas status dengan satu kalimat yang membuatku tertegun:
“Ada
yang single gak Dente?”
. . .
Padahal..
materi? kendaraan? rumah? Allah Swt. titipkan padanya.
Namun,
ia tahu, ada satu hal yang terlewatkan dan saat itu tengah ia kejar. Di umurnya
yang saat itu sekitar 36 tahun, ia dalam ikhtiar untuk menjemput pendampingnya.
Aku tahu, dalam candaannya itu terselip doa dan harapan. Saat itu pula, aku
mendoakan, semoga doa dan harapan itu, lekas Allah Swt. wujudkan.
~
Ada
pula, teman seumuranku yang lain.
Dalam
lawatannya dari Samarinda ke Jakarta, ia sempat-sempatnya ingin bertemu
denganku, di tengah seluk-beluk kesibukannya saat itu.
Apa
hal?
Dari
angkringan pinggir jalan itu, ia berkisah. Membicarakan ikhtiarnya, untuk
menjemput pendampingnya melalui biro jodoh.
Aku
yang polos dan bodoh, tersadarkan akan adanya praktik semacam itu. Tanpa saling
kenal, hanya mengetahui identitas melalui proposal. Percaya saja tanpa pernah menatap
wajah. Pun penyampaian maksud dan tujuan pernikahan, semua diutarakan melalui
perantara.
Bagaimana
bila tidak suka?
Katanya,
ia tidak begitu peduli dengan hal semacam itu. Mendapatkannya saja, ia
bersyukur.
Saat itu pula, aku bergumam dan meneguhkan hati.
Bahwa aku, tak mau lagi menyalahkan—apalagi
menghakimi—mereka yang belum memutuskan untuk meniti jalan pernikahan.
Aku
menyadari, bahwa akan selalu ada yang terleha-leha, pun ada pula yang
tergesa-gesa.
Tidak
apa-apa. Karena pada dasarnya, setiap orang senantiasa dihadapkan pada
pilihan-pilihan yang mengharuskan mereka untuk memilih—yang bahkan, tidak
memilih pilihan apapun, juga merupakan sebuah pilihan.
Sedikit
banyak, aku sependapat dengan pandangan Kurniawan Gunadi.
Bahwa menikah, adalah sebuah pilihan. Setelah menikahpun, akan dirundung dengan beragam pilihan juga. Dalam kondisi yang harus dihindari sekalipun, disediakan pilihan untuk mengakhiri pernikahan.
Jika dalam kondisi tersebut, kita tidak punya pilihan—lantas, pernikahanmu nanti, itu milik siapa?
milikmu
sepenuhnya, atau jangan-jangan, tuntutan orang-orang di sekitarmu?
~
Sebagai
penutup, Jurnal Mengimani Takdir ini kupersembahkan untuk siapapun yang tengah
berjuang. Karena pada akhirnya, jurnal ini akan bermuara pada
satu kutipan yang senantiasa menguatkanku kala meniti jalan pernikahan dan membangun bahtera rumah tangga:
“Kita
seringkali dirundung khawatir.
Padahal,
kita hanya perlu mengimani takdir.”

Tidak ada komentar: